Menimbang Mutu Jurnal Ilmiah Dalam Negeri

Saat ini perkembangan perguruan tinggi di Indonesia mulai pesat, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Namun, perkembangan di tingkat institusi itu tidak diimbangi dengan perkembangan jurnal ilmiah yang bermutu.

Berdasarkan data dari Times Higher Education Supplement (THES) 2007,publikasi dan kualitas jurnal ilmiah asal universitas di Indonesia yang bisa menjadi referensi bagi kalangan luar negeri amat terbatas.

Hal inilah yang mengakibatkan rendahnya posisi perguruan tinggi Indonesia jika dibandingkan dengan lembaga serupa di negara-negara lain. Padahal, publikasi jurnal ilmiah itu tidak hanya menjadi sarana bagi asumsiasumsi maupun teori-teori untuk diperdebatkan, tetapi juga menjadi semacam ukuran atau indikator kualitas dan representasi teoretis suatu lembaga yang memproduksinya.

sumber  : seputar Indonesia

Pada kasus ilmu sosial, hingga saat ini keberadaan jurnal-jurnal ilmu sosial dari perguruan tinggi maupun lembaga-lembaga lain di Indonesia kurang bereputasi internasional. Padahal pada masa Orde Baru, kita memiliki banyak jurnal ilmu sosial yang sering dijadikan acuan bagi kalangan luar negeri, misalnya jurnal Prisma (LP3ES) maupun jurnal Analisis (CSIS).

Kini sebenarnya banyak sekali jurnal ilmu sosial yang terbit, tetapi belum banyak yang bereputasi internasional. Hal ini diakibatkan publikasi jurnal tersebut masih berkisar pada kalangan terbatas. Bahasa yang digunakan pun bahasa Indonesia. Padahal, untuk dapat diakui oleh dunia internasional, jurnal-jurnal tersebut harus menggunakan bahasa Inggris. Jurnal Prisma yang sangat terkenal bagi kalangan peneliti ilmu sosial pada masa Orde Baru saja waktu itu memiliki dua edisi,dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Selain itu, kualitas suatu jurnal juga ditentukan dari konsistensi terbitnya. Suatu jurnal ilmiah dapat dinyatakan baik apabila penerbitannya dilakukan secara rutin. Namun, publikasi jurnal ilmiah di perguruan tinggi saat ini cenderung tersendatsendat. Pada dasarnya, proses pembuatan suatu jurnal memang ditentukan oleh berapa alokasi yang disediakan oleh pihak universitas.

Alokasi anggaran ini selanjutnya digunakan untuk membiayai seluruh proses pengerjaan jurnal ilmiah, mulai dari menyiapkan naskah hasil penelitian, menyediakan bahan baku material, biaya cetak hingga biaya publikasi jurnal tersebut. Setelah diberlakukannya kebijakan perubahan status perguruan tinggi menjadi BHMN,pembuatan jurnal semacam ini tentu saja menjadi beban tersendiri di tengahtengah kondisi keuangan yang menipis, sementara biaya operasional perguruan tinggi yang harus dialokasikan semakin membengkak.

Hal yang sama kiranya juga dialami oleh lembaga ilmu sosial di luar universitas. Karena sifatnya yang current issues, penerbitan jurnal tersebut kerap sangat tergantung pada perkembangan isuisu itu sendiri.Karena timbultampilnya sebuah pemikiran dan pendekatan yang diambil di dalam menerjemahkan suatu pemikiran tersebut dipengaruhi oleh perubahanperubahan yang berlangsung, ketika tema-tema yang disajikan sudah kurang diminati masyarakat,dengan sendirinya penerbitan jurnal menjadi macet.

Prisma pernah mengalami hal ini pada pengujung Orde Baru. Kini, hal yang sama dapat dilihat pada kasus Wacana (Insist). Selain itu, pengaruh lembaga donor juga berpengaruh. Karena komitmen terhadap lembaga donor terjadi atas dasar pemilihan isu-isu yang strategis, apabila isu-isu tersebut mulai tenggelam, seiring itu pula lembaga donor menghentikan aliran dananya.

Persoalan lain yang terkait dengan kualitas suatu jurnal ilmiah ialah kualitas penulis atau peneliti maupun penanggung jawab redaksi jurnal itu sendiri.Tentu saja setiap perguruan tinggi dan lembaga ilmu pengetahuan di luar perguruan tinggi tidak mengalami masalah dengan hal ini. Setiap fakultas di dalam universitas tentu memiliki lembaga penelitian masing- masing, yang di dalamnya duduk sejumlah staf peneliti berkualitas.

Hanya saja, seberapa besar kontribusi mereka di dalam memproduksi pengetahuan akademis terkait dengan posisinya yang merangkap sebagai staf pengajar? Hal ini kemudian berimplikasi pada kurangnya waktu dan perhatian yang diberikan untuk mengelola suatu jurnal ilmiah. Selain itu, alokasi anggaran yang disediakan kepada para peneliti juga berpengaruh.

Dalam hal ini persoalan kesejahteraan mereka perlu diperhatikan. Seperti kita tahu, penghasilan yang diterima oleh dosen dan staf peneliti di perguruan tinggi relatif kecil. Apabila dalam memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri sulit, tentu saja tidak mungkin mengharapkan seorang peneliti dapat memproduksi karya akademis yang berkualitas. Karena rendahnya penghasilan tersebut, para peneliti lebih memilih untuk mengerjakan proyek penelitian yang lebih berorientasi penghasilan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s